Kak Seto: Siswa Penganiaya Guru Adalah Korban

Kak Seto, Ketua KPAI (Lembaga Perlindungan Anak Indonesia) angkat bicara tentang kejadian tragis penganiayaan guru SMAN 1 Torjun, Kabupaten Sampang, Ahmad Budi Cahyono (26) hingga menemui ajal oleh siswanya, HI (17). Guru seni rupa tersebut meninggal dunia pasca perawatan di ruang ICU.

 

Kak Seto mengungkapkan bahwa ia memahami perasaan masyarakat yang tak terima dengan perilaku HI. Tetapi ia juga berharap bahwa undang-undang tetap menjadi acuan untuk menegakkan hukum.

 

Bila dilihat dari latar belakangnya, yang bersangkutan adalah korban dari lingkungan yang kurang kondusif sehingga mendorongnya menjadi pelaku kekerasan. Bagaimana pun juga tersedia undang-undang peraturan pidana bagi anak sehingga mereka tak hanya dilihat sebagai pelaku yang keji namun juga korban, kata Kak Seto.

 

Terlepas dari itu Kak Seto setuju bila HI harus mendapatkan ganjaran atas perbuatannya, tetapi mengingat pelaku Bandar togel hongkong belum cukup umur ia menyarankan bahwa hukuman yang dimaksud lebih bersifat rehabilitative. Artinya hukuman yang mendidik agar anak tak lagi menjadi pelaku tindakan criminal yang lebih besar.

 

Apalagi saat ini penjara anak telah berganti dengan LPK atau Lembaga Pendidikan  Khusus sebagai tempat pembinaan pelaku criminal di bawah umur. Dengan begitu Kak Seto berharap HI sadar serta tak lagi mengulang perbuatannya di masa depan.

 

Bisa terjadi ada tindakan yang melanggar harga diri si anak, lanjut Kak Seto.

 

Polres Sampang sendiri telah menetapkan HI sebagai tersangka dan terancam hukuman maksimal 7 tahun penjara sesuai Pasal 351 ayat 3 KUHP. Sebelum status tersangka itu ditetapkan polisi telah memeriksa 9 saksi serta mengumpulkan dokumen-dokumen hasil visum korban dari Puskesmas Jrengik, RSUD Sampang, serta Rumah Sakit Dr Soetomo Surabaya.

 

Hingga ditetapkan sebagai tersangka, pelaku, berinisial HI (17) asal desa Torjun, kecamatan Torjun, Kabupaten Sampang tak terlihat trauma. Yang bersangkutan berada dalam kondisi sehat tanpa gangguan psikis.

 

AKBP Budi Wardiman, Kepala Polres Sampang menjelaskan bahwa proses pemeriksaan berjalan lancar dan pelaku berada dalam kondisi baik.

 

Walaupun tak mengalami trauma, tapi karena masih di bawah umur, pelaku HI memperoleh perlakukan khusus. Tersangka yang lahir tanggal 13 Maret 2001 menjalani pemeriksaan dengan pendampingan orangtua, psikiater, petugas dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak, pekerja social, petugas Balai Pemasyarakatan, dan penasehat hukum.

 

Berkaitan dengan penasehat hukum tersebut dari pihak keluarga pelaku masih berunding dan akan secepatnya  diputuskan bila memang diperlukan. Ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Su’ud kakak kandung pelaku.

 

HI sendiri dijerat dengan pasal 351 ayat 3 KUHP tentang tindak kekerasan yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang dan terancam dengan hukuman penjara maksimal 7 tahun penjara.

 

Kronologi peristiwa tersebut bermula pada saat pelajaran Seni Rupa yang diajarkan oleh guru Budi pada hari kamis 1 Februari lalu pukul 13.00 WIB. Pada waktu itu guru Budi mendapat laporan dari beberapa siswa bahwa pelaku mengganggu murid-murid yang lain dengan mencoret-coret lukisan mereka. Pak guru pun memperingatkan HI  namun tak digubris hingga akhirnya yang bersangkutan mencoret pipi pelaku dengan cat lukis.

 

Emosi HI tiba-tiba tersulut dan menganiaya guru seni rupa honorer tersebut. Pada saat peristiwa guru tersebut sama sekali tak melawan hingga akhirnya dilerai oleh guru yang lain dan juga beberapa siswa. Rupanya pukulan tersebut berakibat fatal yang menyebabkan guru Budi menemui ajal. Menurut diagnose dokter, Budi mengalami mati batang otak serta seluruh organ tubuhnya tak berfungsi.