Pemkab Sumenep Ketatkan Aturan Salat Jamaah Karena Sumenep Zona Merah

Pemerintah Kabupaten Sumenep pasalnya terus menerus melakukan upaya pengawasan pada sejumlah aktifitas masyarakatnya setelah daerahnya masuk ke zona merah penularan virus corona. Dan salah satunya adalah memperketat aturan ibadah sholat berjamaan.

Pemkab Sumenep Perketat Aturan Shalat Berjamaah

Aturan itu dimuat di dalam surat kesepakatan atau pun Memorandum of Understanding (MoU) yang mana melibatkan unsur pemerintah daerah, kemudian tokoh masyarakat dan organisasi kemasyarakatan bahkan kiai pesantren. Salat berjamaan yang dimaksudkan adalah salat tarawih dan salat jumat.

Busyro Karim, Bupati Sumenep, mengatakan bahwa untuk bisa memutus mata rantai penyebaran virus corona ini pihaknya telah melakukan rapat koordinasi dengan sejumlah pihak komponen guna membahas aturan ibadah salat tarawih dan salat jumat secara berjamaah. “Dalam rapat itu disepakati, masjid dan juga musala tetap melaksanakan ibadah salat jumat dan tarawih dengan syarat wajib memperhatikan protokol kesehatan bandar toto online yaitu mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak dan tidak berjabat tangan,” ungkap Busyro dilansir dari CNN Indonesia, Rabu (29/4).

Jika protokol kesehatan dilanggar, menurutnya, maka pemerintah bakal memberikan sanksi dengan melakukan pemanggilan pada takmir masjid dan juga pengurus musala. Lalu pemerintah juga bakal mengancam tak akan mengizinkan salat berjamaah baik itu salat jumat maupun salat tarawih digelar kemudian di waktu berikutnya.

“Sanksinya bakal dilakukan secara bertahap, yaitu tahap pertama adalah pemanggilan dengan perihal mengevaluasi, lalu tahap kedua menindak masjid dan musala dengan melarang tempat ibadah itu menggelar ibadah salat berjamaah,” imbuhnya.

Pihaknya yang menyetujui dengan aturan ini pasalnya meliputi Bupati Sumenep, Busyro Karim, Kodim 0827Letkol Inf. Ato Sudiatna, Ketua DPRD Abdul Hamid Ali Muniri, PCNU Sumenep Moh Taufiqurrahman, FKUB Mahfudz Rahman, MUI Sumenep Safraji, dan Kapolres Sumenep AKBP Deddy Supriadi, serta sejumlah komponen masyarakat yang lainnya.

Salah Seorang Pasien Positif Corona Takmir Masjid

Salah satu dari 4 orang pasien sebelumnya dinyatakan positif corona di Sumenep yang masuk ke klaster asrama haji Surabaya dan diketahui ia adalah takmir atau pengurus sebuah masjid. Pria yang jadi takmir maskjid tersebut bertempat tinggal di Perumahan Bumi Sumekar Asri. Dan bahkan di musala serta masjid di sekitar tempatnya tinggal, dirinya sering jadi imam salat di waktu-waktu tertentu.

Oleh karena itu lah Busyro langsung menginstruksikan Juhedi, Kepala Kemenag Sumenep supaya kantor dan perumahan tempat tinggal pasien tersebut bisa disterilkan dengan menyemprotkan cairan disinfektan. Hal ini karena mereka adalah para pegawai Kemenag yang mana beberapa hari belakangan ini sudah banyak melakukan interaksi dengan sejumlah pegawai lainnya dan juga masyarakat.

“Kami mohon Kemenag supaya semua pejabat structural di bawahnya di-rapid-tes. Kemudian di perumahan, musala, dan masjid tempat tinggal satu orang ini untuk disterilkan dengan menyemprotkan disinfektan,” ungkap Busyro lagi hari Jumat (24/4) minggu lalu.

Menurut dirinya untuk memutusa rantai penyebaran dan penularan virus corona ini masyarakat mesti mematuhi anjuran dari pemerintah di antaranya dengan memakai masker, mencuci tangan, mengonsumsi makanan yang bergizi dan menjaga jarak minimal 1.5 meter. Dengan demikian, ia meyakini bahwa penyakit apapun tidak akan mudah menyerang.

Tak Cuma itu, orang nomor satu di lingkungan Pemkab Sumenep itu pun membatasi pergerakan aktifitas sosial selama dua hari yakni pada Sabtu dan Minggu lalu. Beberapa waktu lalu masyarakat Sumenep juga tak bisa melakukan koordinasi dengan petugas Satgas Covid-19 di desa.